Memakna Hujan Abu 14 Februari 2014 dari Yogyakarta

Islamedia Mulai terasa dini hari tadi, hujan abu mengguyur kota Yogyakarta akibat erupsi gunung Kelud, Jawa Timur. Pukul tujuh pagi terlihat seperti pukul lima pagi karena cahaya matahari sulit menembus abu yang tertiup angin dari Jawa Timur ke arah barat daya. Matahari tak terlihat.  Aktivitas manusia terhenti. Para pencari nafkah memutar kendaraannya, berbalik pulang ke rumah. Para pencari ilmu duduk manis di rumah dan mengubur niatnya untuk belajar. Satu per satu agenda dibatalkan. Membuat peredaran manusia seketika stagnan. Kalau sudah begini, tidakkah terasa, manusia itu milik siapa? Bumi ini siapa yang punya?

Beberapa jam yang lalu, masih banyak manusia berjanji. Entah dengan menyebut insya ALlah atau tidak. Membuat rencana-rencana esok hari. Baik janji yang mengarah kepada kebaikan atau mengarah ke maksiat. Banyak pula manusia berdoa supaya besok tidak hujan. Bagi mereka hujan adalah salah satu penghalang rencana-rencana mereka. Padahal mereka tidak sadar, siapa sebenarnya Sang Maha Pembuat Rencana.
“Maka, apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur nyenyak?” (QS. AL – A’raf:97)  Dan Allah telah menunjukkan sebagian kecil kekuasaanNya hari ini. Erupsi gunung Kelud terjadi sekitar pukul sebelas malam di saat kebanyakan orang sudah terlelap tidur.
Hujan abu terus terjadi hingga pagi hari. “Atau penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bersenang-senang?” (QS. AL-A’raf : 98)  Abu vulkanik menutup permukaan tanah. Manusia-manusia makin gelisah. Abu yang menempel mengganggu pernafasan, mempersingkat jarak pandang dan menghambat kegiatan mereka. Satu persatu mulai terdengar mereka bergumam, “Andaikan hujan datang.. Andaikan hujan datang..” Hujan dapat menyapu abu yang menyelimuti rumah-rumah mereka. Mereka lupa beberapa jam yang lalu baru saja mereka doa agar hujan tidak mengganggu rencana mereka. Kalau begini, baru terasa jika hujan adalah rahmat. Padahal sejatinya, saat hujan abu maupun saat hari cerah, yang namanya hujan tetaplah rahmat yang Allah kirimkan. Namun, kebanyakana manusia mengingkarinya. “Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat)” [QS. Al-Furqaan : 48-50]
Ini terjadi tepat saat kebanyakan orang merayakan Hari Valentine yang –katanya- merupakan hari kasih sayang. Padahal yang mereka lakukan justru menjauhkan diri dari kasih sayang Pencipta mereka, Allah. Para pelupa Tuhannya merencanakan perayaan hari ini dengan foya-foya. Pusat perbelanjaan beramai-ramai menghias dan menyajikan promo untuk pasangan-pasangan yang ingin merayakan hari ini dengan kesenangan buta belaka. Membuat mereka lupa mengingat Tuhannya. “Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf : 99)
Musibah yang terjadi sebaian besar adalah akibat perbuatan manusia. Baik manusia yang tak pernah bersyukur, menghalau rahmat dari Allah, bermaksiat pada Allah atau manusia yang lupa. Lupa akan adanya Allah yang mengatur hidup mereka. Sehingga, mereka berjalan di muka bumi seenak hatinya.   Allah hanya meminta kita menjadi manusia yang beriman dan bertakwa. Untuk kebaikan siapa? Untuk kebaikan kita sendiri. Agar Allah dapat memberikan limpahan rahmat dan barokahnya pada kita. Namun, seperti pada awalnya, islam –yang utuh, yang menegakkannya secara menyeluruh- dimulai dari keadaan terasing dan akan kembali menjadi terasing. Di luar sana lebih banyak manusia yang mendustakan ayat-ayat Allah daripada yang mengamalkannya.
“Dan sekiranya penduduk negeri mau beriman dan taat kepada ALlah, niscaya akan Kami bukakan pintu-pintu berkah kepada mereka dari langit dan bumi. Akan tetapi, penduduk negeri-negeri itu mendustakan agama Kami. Maka, Kami timpakan adzab kepada mereka karena dosa-dosa mereka.” (QS. Al-A’raf : 96)
Dan saat tulisan ini diselesaikan, hujan datang rintik-rintik. Kemudian berhenti disusul dua petir besar yang menyambar. “Atau apakah kalian merasa aman dari adzab Tuhan yang menguasai langit yang akan mengirimkan petir kepada kalian, sehingga saat itu klaian menjadi sadar akan akibat buruk kalian mendustakan ancaman-Ku kepada kalian?” (QS. AL- Mulk:17)
Semoga hari ini semakin banyak pintu-pintu hati manusia yang terbuka. Beriman dan taat kepada Allah. Memakna apa yang terjadi hari ini sudah tercatat dalam Al-Qur’an sejah empat belas abad yang lalu. Kota ini telah banyak ditimpa musibah. Namun, Allah masih sayang karena di lautan manusia yang lupa padaNya, masih ada segelintir manusia yang terus menebarkan kebaikan, membacakan ayat-ayatNya dan mengajak manusia bertakwa pada Tuhannya.
Wallahu ‘alam. 

Alfina Dewi

sumber Islamedia – Media Informasi Islami http://ift.tt/MYErxf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s