Bongkah-Bongkah Kesombongan

Islamedia Kesombongan adalah sumber mala petaka. Begitulah bila memandang orang sebelah mata. Sombong dan besar kepala membuat segalanya tak punya harga. Ia buta, tuli dari nasihat kebenaran, dari titah Tuhan dari segalanya. 

Ia tercipta dari titik dan percik api yang menyala. Meskipun perciknya setitik, tapi ledaknya mampu meluluhlantakkan yang ada, meleburkan kebaikan dan menghancurkan semuanya, segalanya. Bila amal kebaikan adalah kayu, ia api yang akan membakar habis batangnya, pohonnya, dahan dan daun-daunnya bahkan akar-akarnya, tak tersisa.  
Tak ada yang bisa memadamkan api kobarnya. Kecuali Yang menciptakannya, Yang maha segalanya. Atau mahluk sebagai delegasi tentara-Nya. Air yang mengalir, ialah mahluk penakluk sebagai utusan-Nya. Kesombongan ini milik Allah semata, ia sebagai selendang dan pakaian Tuhan nan maha perkasa, maha memaksa. Tak layak kita manusia merebut dari Dzat yang memilikinya. Sebab kita tak punya kuasa apa-apa tak punya daya dan upaya.
Lihatlah sejarah panjang kesombongan bermula. Saat si sombong merasa sudah berbuat yang terbaik bagi dirinya, taat beribadah beribu-ribu tahun lamanya. Namun percik api kesombongan didalam dadanya meleburkan nilai yang ia telah toreh dan raih sebelumnya. Dia besar kepala, meresa ia lebih baik dari yang ia akan sujud terhadapnya, Adam yang baru dicipta, belum tau apa-apa, belum berbuat dan menorehkan prestasi dihadapan mahluk yang sudah lama sebagai seniornya. Yah… Iblislah si sombong nan angkuh terhadap si junior bapak manusia. Saat titah Tuhan memerintahkan ia bersujud memberi penghormatan : 
“Bersujudlah! maka seluruh malaikat bersujud kecuali iblis.” (Q.S. 2: 34, 7: 11, 17:61, 18:50, 20:116) Dia enggan nan congkak dengan kesombongan. Justru malah dia mempertanyakan perintah Tuhannya, perintah macam apa ini wahai Tuhan? : “Apakah aku harus bersujud kepada yang Engkau ciptakan dari seonggok tanah?” (Q.S. 17:61)  dia merasa dirinya yang terbaik dari segala yang ada, apatah lagi Adam yang akan ia persembahkan penghormatan tertingginya :  “Aku lebih baik darinya, Engkau ciptakan diriku dari api, sementara adam dari tanah!”      
           
Wahai manusia! Jangan kita berjalan membusungkan dada. karna mungkin sesungguhnya kita lebih hina, dibanding mereka yang meminta minta. Minta pengakuan, minta ketinggian, minta kehormatan.
Merasa diri lebih baik itu asumsi, tak terbukti tak bersaksi. Janganlah sejarah iblis ini terulang kembali, apalagi bila aktor sejarah kesombongan itu justru kita sendiri. Manusia yang dulu pernah diberi persembahan tertinggi. Penghormatan dari para malaikat atas perintah Ilahi. Iblis yang telah terhina dengan iri nan dengki malah kita teladani dan kita meniru sifatnya nan tak terpuji. Hindari dan jauhi!   

Belajarlah dari sejarah mereka yang diluluhlantakkan, dari mereka yang ditenggelamkan, yang di ceritakan dalam Al-Qur’an.  Mereka yang menghina dan menolak kebenaran. Fir’aun, Kan’an, Qorun, Abu Jahal dan Abu Lahab jahanam.Tidakkah mereka semua kita jadikan pelajaran?Kesombongan, kedegilan adalah sumber kedurhakaan.
Buang jauh iri dan dengki dari hati, sebab ia penyumbat air penyejuk jiwa nan suci. Hijab nan pekat penghalang cahaya hidayah Ilahi. Ini yang terjadi di seluruh perguliran sejarah manusia yang ada. Fir’aun yang merasa telah membesarkan Musa ; Anak kecil yang tumbuh dari makanan hasil keringatnya. 
Bayi yang diselamatkan nyawanya dari ombang-ambing gelombang sungai Nil oleh Istri pendamping hidupnya, Asiyah penghuni surga. Bayi yang tak punya secuilpun kelayakan untuk berbicara di hadapan “tuhan” Mesir Fir’aun yang mulia. Kini Musa akan meruntuhkan seluruh hamparan cita-cita besar menjadi tuhan semesta? Oh… Siapa Musa? Kok begitu sok kuasanya dia merasa jadi nabi yang diutus oleh Tuhan untuk Fir’aun “tuhan” yang sesungguhnya! Mulut congkaknya berucap, ungkapan kesombongannya mencuat : Akulah tuhanmu yang paling tinggi.(Q.S. 79:24) hai Musa dan seluruh muhluk semesta!
Kesombongan itu tuli dan buta, tanda kenabian Musa telah tampak jelas didepan mata, ayatnya telah menembus gendang telinga tapi semua tertutup dan tersumbat oleh rasa tinggi diri dan besar kepala. Musa berkata : “Wahai fir’aun! aku ini utusan Tuhan semesta alam.” (Q.S. 7:104) 
Mu’jizat  sebagai tanda dan ayat dari Tuhan dianggapnya sihir yang nyata. Dia dustakan seraya berkata  : “Musa adalah seorang ahli sihir yang pendusta. (Q.S. 40:24) dia kembali menuduh Musa nabi yang mulia : “Sesungguhnya aku sangka kamu, seorang yang kena sihir, hai Musa!”. Begitulah kebebalan dan kedegilan kesombongan. 
Bahkan ketika semua orang telah mengikuti kebenaran dan cahaya iman, ia tetap saja tidak bergeming dan memudar, bara apinya tetap tidak hilang dan padam. Malah dia mengancam semua ahli sihir yang beriman dengan adzab yang kejam : Sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kalian dengan bersilang, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kalian semuanya di tiang gantungan.(Q.S. 7:124)
           
Merasa tinggi dan harus dihormati, bukanlah sifat yang harus dijaga dipelihara. Bukan juga sifat dan tinggi terpuji dan bukan pula sifat yang mulia dan pantas untuk kita. Ia hanya pantas untuk ahli neraka nan membara. Karena kesombongan itu bak api yang menyala maka tempat kembalinya adalah jahannam nan tempat sengsara. Tempat kembali para durjana pendurhaka.
Inilah sebab kenapa ia harus dijauhi, karena bila ia sudah bersemayam dalam hati, sulit untuk diobati. Sulit untuk dibuat mati. Percik kecilnya hanya bisa dikembalikan bersama kobaran muaranya, dan muaranya adalah Neraka yang menyala-nyala. Sabda Nabi : “tidak masuk surga yang di dalam hatinya ada setitik api kesombongan yang menyala.” Juga ancaman Allah SWT : “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. 40:60)  
Mulai hari ini, besok dan seterusnya, jadikan diri rendah hati tidak sombong dan tidak  menggurui. Kita berharap pancaran air hidayah nan segar dan suci selalu meyertai dan menyelimuti diri! 
Muhammad Khumaidi
Praktisi Pendidikan SMAIT Nur Hidayah Surakarta

Alumnus Ma’had Aly An-Nu’aimy Jakarta

Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

sumber Islamedia – Media Informasi Islami http://ift.tt/1csAZ7J

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s