Jika aku Menghendaki

Islamedia Kegiatan  pengabdian masyarakat yang diselenggarakan kampus kurang lebih lima bulan yang lalu memberikan pelajaran kepada saya tentang arti mengucap ‘insya Allah’ ketika berjanji. Bahwa janji yang kita ucapkan terbawa oleh gelombang longitudinal suara menggema ke seluruh penjuru dunia. Tapi, kita yang mengucap janji terlalu sombong untuk sekedar merendah diri menyadari ada Dzat yang lebih berkuasa di atas manusia akan takdir janji yang keluar melalui lisan kita.

Sebagai mahasiswi jurusan teknologi pangan, saya membuat program pengabdian masyarakat di kalangan ibu-ibu PKK untuk memberikan panyuluhan dan pelatihan di bidang makanan sehat. Pekan-pekan awal adalah masa yang cukup sulit dimana program dituntut harus berjalan, namun dana dari kampus belum juga cair. Maka, kami mahasiswa yang rata-rata mengidap penyakit kantong kering merogoh kocek sedalam yang kami bisa demi berlangsungnya program yang telah kami rencanakan. 
Sudah dua puluh lima hari kami terdampar di tempat ini. Di ujung utara provinsi DI. Yogyakarta. Sedihnya, belum banyak program terlaksana dan saya merasa kurang maksimal mengabdi di masyarakat. Lusa, hari ke dua puluh tujuh kegiatan pengabdian masyarakat ini, program saya akan berjalan. Saya ingat betul bagaimana mengajak ibu-ibu PKK untuk hadir ke pelatihan masak dari kami, “Ibu-ibu, sampai jumpa tanggal dua puluh tujuh ya, kita adakan pelatihan masak kue lebaran dari bahan baku salak dan susu kambing yang dihasilkan di desa ini.”
Dengan semangat empat lima, tanggal dua puluh enam pagi saya tancap gas turun gunung menuju kota Jogja untuk mengurus segala keperluan pelatihan esok hari. Seharian saya mengurus sambil terus dipantau teman-teman satu pondokan yang mengingatkan untuk TPA sore hari. Pukul 16.30 saya membanting stang motor ke utara untuk kembali ke pondokan. Segala kelelahan berputar-putar Kota Jogja hari itu dikalahkan untuk mengejar waktu TPA yang tinggal tiga puluh menit lagi. Tiga puluh menit cukup untuk perjalanan menuju TPA, pikir saya. 
Tanpa pikir panjang saya membelah kota Jogja melewati jalan Monjali. Udara begitu hangat, dan semilir angin menerpa wajah saya. Saya tidak begitu ingat berapa menit berlalu dari melintasi perempatan ringroad-jalan monjali. Yang saya ingat, seketika ada benturan keras mengenai tubuh saya dan saya tersadar kalau tubuh saya sudah tertindih motor. Aliran air sungai yang dingin mengenai wajah saya. Saat saya membuka mata, astaghfirullah! Saya kecelakaan.  Saya dan motor saya jatuh ke sungai pinggir jalan monjali.
Sejak tersadar, semua berjalan begitu cepat. Orang-orang berkerumun mengelilingi dan membantu saya, warga setempat mengantar ke rumah sakit terdekat, tangan saya yang mati rasa, teman-teman satu pondokan datang, orang tua datang, saya dipindah ke rumah sakit kota, penanganan dokter dan malam hari sekitar pukul 23.00 saya sudah tergeletak tak berdaya di tempat tidur. Tangan kiri patah terbalut gips, kaki kiri tergores aspal, kaki kanan terpanggang knalpot, tubuh saya yang tadi pagi masih lincah mengurus segala hal sendiri untuk program berubah tak berdaya, remuk, tak bisa bergerak. Dan kedua kalinya dalam satu hari kesadaran saya diambil sementara oleh yang Maha Pencipta. 
Esoknya, ketika Allah mengembalikan kesadaran kepada saya, penyesalan datang bertubi-tubi. Tentang saya yang kecapekan, saya yang memaksakan program, saya yang tidak jadi datang TPA, terlebih saya tidak bisa melanjutkan program pelatihan yang telah saya janjikan pada ibu-ibu PKK. Mana mungkin saya mengadakan pelatihan hari ini? Sedangkan, sekujur tubuh terasa sakit dan lelah. Jangankan berdiri, sekedar duduk pun saya tak mampu. Betapa ironis dengan keadaan saya yang lintang pukang kemarin hari. 
Introspeksi adalah agenda tiap hari yang bisa dilakukan pasca kecelakaan. Terngiang-ngiang ucapan sendiri yang menjanjikan pelatihan pada lebih dari dua puluh ibu-ibu PKK yang hadir kala itu. Oh, banyaknya hutang saya. Saya berpikir apa yang kurang, apa yang salah, sampai Allah memberikan ujian ini pada saya. Perlahan, seperti hembusan angin sore saat saya melintasi jalan monjali, kesadaran itu menyeruak ke dalam hati dan pikiran saya. Kenapa saya selalu terngiang janji pada ibu-ibu. Kenapa saya selalu bermimpi kembali ke lokasi untuk mengadakan pelatihan. Kenapa saya merasa dihantui hutang. Kenapa pikiran saya tidak tenang. Saya sadar saat mengeja kalimat itu berulang kali, “Ibu-ibu, sampai jumpa tanggal dua puluh tujuh ya, kita adakan pelatihan masak kue lebaran dari bahan baku salak dan susu kambing yang dihasilkan di desa ini.” 
Ada yang hilang dari kalimat itu. Ada keharusan yang tidak saya ikutkan ketika mengucap janji itu. Saya kehilangan redaksi “Insya Allah” saat berjanji. Yang berarti saya lupa bahwa ada Allah yang memiliki skenario, apakah pelatihan tanggal dua puluh tujuh akan terselenggara atau tidak. Saya terlalu sombong. Menganggap masa depan dapat saya handel sendiri. Terlihat dari usaha saya dalam menyiapkan pelatihan sendiri. Baca ulang kalimat saya di atas. Betapa sombongnya saya. Menjanjikan sesuatu pada orang lain seakan masa depan ada di tangan saya. Menjanjikan sesuatu akan terjadi berhari-hari yang akan datang tanpa meminta izin pada Dzat Yang Maha Menjadikan Sesuatu. 
Manusia itu begitu sombong. Terutama saya. Saya yakin dalam waktu tiga puluh menit,saya bisa sampai di lokasi TPA. Tapi, Allah berkehendak lain, sampai sekarang, sudah lebih dari tiga puluh hari, bahkan lebih dari tiga bulan, saya belum bisa kembali ke lokasi pengabdian masyarakat di ujung utara DI. Yogyakarta itu.
Di tengah introspeksi, saya teringat akan cara Allah menegur Rasulullah kala itu. Peristiwa asbabun nuzul ayat 23-24 pada Al-Qur’an surat Al-Kahfi. Suatu ketika, datanglah dua orang Quraisy menghadap Rasulullah saw dan mengajukan tiga pertanyaan, yaitu : 1. Bagaimana Kisah Ashabul Kahfi? 2. Bagaimana kisah dzul Qarnain? 3. Apa yang dimaksud dengan ruh? 
Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah bersabda, “Besok akan saya ceritakan dan saya jawab.” Beliau yakin akan segera turun wahyu untuk menjelaskan padanya jawaban dari pertanyaan orang-orang Quraisy itu. Hari demi hari berlalu. Orang Quraisy datang setiap hari menagih jawaban dari Rasulullah saw dan mereka selalu mendapat jawaban yang sama, “Besok.. besok.. besok..”. Terbayangkan kesedihan Rasulullah saw saat itu, kepercayaan orang-orang disekitarnya mungkin bisa saja luntur melihat Rasulullah saw tidak bisa menjawab pertanyaan orang-orang Quraisy itu. Ternyata, wahyu Allah terputus sampai lima belas hari kemudian Allah swt berfirman,

“ Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, Kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah” dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. (QS. Al Kahfi :23-24)
Ini adalah sebuah cerita pengalaman saya dan semoga dapat dijadikan pelajaran untuk kita semua.
Pengalaman ini hanya membuahkan dua lembar tulisan di microsoft word, tapi butuh lebih dari dua bulan Allah memberikan waktu pada saya untuk menyadari dan menuliskannya. Semoga saat berjanji, yang keluar dari mulut kita bukan kalimat sombong ‘jika aku menghendaki’, tapi kalimat rendah hati ‘jika Allah menghendaki’. 

Alfinna Azzahra 

sumber Islamedia – Media Informasi Islami http://ift.tt/1jKRuNZ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s