Membungkam Si “Mulut” Lancang

Islamedia – Fasilitasnya bejibun tak terhitung. Banyak, sebanyak pasir di pantai dan tepi sungai. Bilangannya tak terbilang bak bintang-gemintang di langit yang terang-benderang. Begitu banyak “sesuatu” yang dianggap Allah sebagai amal kebaikan bagi kita, manusia. Ia adalah fasilitas yang diberikan sebagai amal kebajikan yang nantinya menjadikan kita masuk surga. 

Coba kita lihat hadits tentang “membuang duri dari jalan”. Itu adalah sesuatu yang dianggap kebaikan oleh Allah yang maha rahman. Bahkan senyum kita kepada orang lain itu dianggap sedekah harta yang tak terhitung jumlah dan nilainya. Maha agung dan murahnya Allah memberikan segala fasilitas dan media kebaikan, bukan hanya amal yang besar dan berat untuk dilaksanakan, tapi juga hal sepele dan tak bertele-tele.
Kita pernah mendengar riwayat bahwa ada wanita pezina yang masuk surga hanya karena ia memberi minum anjing yang akan mati karena dahaga. Apatah lagi bila yang diberi minum itu manusia? Titik tekan dan intinya adalah bagaimana kita membuat saudara kita bahagia, sesama iman, sesama manusia bahkan sesama mahluk-Nya. Seorang muslim adalah rahmat bagi alam semesta, semuanya.  
Dan kita perlu ingat, bahwa saham terbesarnya ada pada mulut dan lisan kita. Sebab ini adalah sumber kata-kata. Ia bak raja bertitah semaunya kepada patih dan pengawal setianya. Yang ia bisa membuat orang tersihir dengan lirih gaung dan gemanya. : “bila pagi menyingsing, seluruh anggota badan anak adam tunduk kepada lisan, : ‘Lisan, Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami sekalian, karena kami mengikutimu, apabila kamu lurus, maka kami pun lurus, dan apabila kamu bengkok, maka kami pun bengkok’.” (H.R. At-Tirmidzi dan Ahmad).
Selain Ia adalah sumber kebaikan, ia juga sumber bencana dan mala petaka. Dengannya segalanya bisa berbalik memangsa tuannya. Betul sebuah ungkapan : “Mulutmu harimaumu” Bagi mereka yang tak mampu menjinakkan buas lidah dan ganasnya mulut yang menganga. 
Kiamatlah dunia bila semua mulut sudah tak lagi dijaga. Menghina, menista dan menebar duri fitnah belaka. Padahal kita sudah sama-sama tau dan faham betul bahwa fitnah dan dusta lebih besar akibat dan mungkin dosanya ketimbang membunuh jiwa, menghilangkan nyawa : “fitnah itu lebih kejam ketimbang membunuh jiwa.”(Q.S. 2 : 191) sebab itulah rasulullah memberitakan bahwa di antara tanda kiamat adalah tersebarnya fitnah di mana-mana.
Orang yang celaka adalah mereka yang tak punya apa-apa saat menghadap Tuhannya. Dan yang lebih celaka adalah bila ia beranggapan bahwa dia sudah mengumpulkan kebaikan sebesar gunung bahkan alam raya, tapi sayangnya tak berarti bagi Allah apa-apa. Oh… kasihan betul, amalnya habis tak tersisa dibakar panas mulutnya yang selalu membara menitikkan luka di hati saudara sesama. Itulah mereka yang disebut “muflis” oleh Nabi dalam sabda-sabdanya.
Kalau Allah adalah maha pengampun segala dosa, itu pun tak diberikan cuma-cuma, ada syarat yang harus manusia jaga untuk bisa merengkuh ridha Allah dan ampunan-Nya, tak ada hati yang tersakiti, tak ada harta yang terampas dari saudara dari sesama.
Mulut dan lisan memang senang mengembara dan melayang ke ruang yang tak berujung panjangnya. Jalan dan jangkauannya luas tiada batas. Ia memegang peran terbesar dalam membangun taman-taman indahnya kebajikan, tetapi juga punya peran yang sama dalam membinasakan dan membakar habis keindahan kebaikan yang sudah diusahakan. Siapa yang mengumbar lisannya dengan bebas dia akan tergilas. Dalam kebinasaan mereka terhempas dan terkulas.  
Jagalah lisan kita, jangan ada yang tersakiti apalagi terzalimi. Kita ini muslim, Seharusnya semua merasa selamat bila berada di dalam naungan daun rindangnya. Kita ini mu’min, seharusnya selalu menebar keamanan bagi yang berlindung di balik tembok kokohnya. Bukan malah penebar bau anyir semburan sampah aib saudara sesama iman dan keyakinan. Sesama penyembah Tuhan dan pecinta rasul akhir zaman. Apa kita ini sudah lupa dengan sabdanya : “Siapa yang membela harga diri saudaranya, niscaya Allah menjaga wajahnya dari neraka pada hari kiamat” (HR. at-Tirmidzi)dan Allah akan buka aib-aib dirinya. 
Kalau para salaf dulu selalu menjaga kebersihan hati mereka ketika hendak tidur dan berbaring. Berharap mereka kembali kepada Allah dalam keadaan bersih hati dan pikirannya dari prasangka terhadap saudara. Kenapa justru kita yang mengaku berteladan kepada salafus sholeh malah mengotori, bukan hanya hati tapi pikiran bahkan lisan kita sesaat baru bangun pagi menjelang? 
Mana persaudaraan sesama muslim dan mu’min itu? “Salamatus Shodr”sebagai tingkatan ukhuwwah terendah pun tercabut dari hati kita sejak lama. Oh… apakah ini yang mau kita katakan kita ini sedang berjuang mengembalikan kegemilangan Islam? Sementara kita tidak juga meletakkan batu bata pondasi awal bangunan kegemilangan itu pada posisinya. 
Sesak dada kita, bila kita terus menyaksikan dengan sepasang mata. Mendengar dengan gendang telinga. Media sebagai “mulut” lancang yang terus menebar bau busuk aib dan memfitnah sesama. Yang pasti, semua akan ada balasan dan tangungjawabanya bila ada yang terzalimi tersakiti. Sudah seharusnya “mulut” lancang media dipaksa diam dan atau dibungkam, karena ia lebih berbahaya dan luas akibatnya bila dibandingkan dengan “mulut” pendusta biasa. 
Gerak jangkauan pengaruhnya cepat melayang ke segala ruang-ruang kosong. Jejak kakinya tak berbekas, langkahnya luas tak terbatas. Laju kecepatannya seperti kilat, bahkan bak mata berkedip. Oh… bila ia terus berkuasa, maka kiamat sudahlah dekat!
Oh.. Media. Oh.. kalian yang menggerakkan pena. Jaga benar-benar ucapan dan ungkapan kalian. Sebab jika kalian menebar ketidakbenaran fakta dan adu domba belaka. Kalian akan juga menerima akibatnya. 
Jika kalian tak bisa menyingkap dan mengungkap kebenaran dan keadilan, lebih baik bagi kalian diam seribu bahasa!

sumber Islamedia – Media Informasi Islami http://ift.tt/1deDM4N

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s