Perseteruan Dua Mata

Islamedia – Betapa kurang ajarnya tingkah laku para pemuda yahudi bani qainuqa’ di Madinah saat itu. Pemuda-pemuda bejat tak berakhlaq memaksa membuka, menarik-narik kain hijab penutup aurat seorang wanita afifah menjaga izzah muslimah yang sedang berniaga. 
Betapa bengis dan sadisnya kebiadaban yahudi bani nadzir yang punya rencana biadab; membocor dan memecahkan kepala Rasulullah dengan batu bongkahan. Betapa picik, munafik dan licik, yahudi bani quraidzah yang mengadakan makar dengan kafir Quraisy, saling membela, saling melindungi, bahu-membahu membumi hanguskan Islam dan nafas pengaruhnya, saat mereka telah mengadakan janji setia untuk saling membela, saling melindungi dengan kaum muslimin sebelumnya.

Bejat dan kurang ajarnya akhlaq mereka. Biadab, pongah, picik dan liciknya hati munafiq lagi busuknya, semuanya telah mengalir bersama aliran darah, tumbuh menjadi daging-daging dalam tubuh, membungkus bak kulit indah menghiasi wajah.
“Dan engkau akan melihat kebanyakan dari mereka (orang Yahudi) berlomba-lomba dengan dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sungguh buruklah apa yang mereka kerjakan”. (Al-Maidah : 62). Tujuan mereka satu, kalian ikut ideologi yang mereka bawa, menjadi pengikut dan pembela kepentingan mereka.
***************************
Trilogi Mata
Sahabat…
Sebenarnya ada tiga mata yang sering dikaitkan dengan tubuh manusia; Mata kepala, “Mata”hati dan “mata” kaki. Untuk jenis mata yang ketiga “mata kaki”, ia hanya menunggu mandat, perintah dan titah dari dua mata yang sering berseteru memperebutkan dominasi. Siapa yang lebih kuat dan perkasa, dia yang akan menjadi raja. Mata kaki hanya pengeksekusi. Begitu juga mulut, tangan dan anggota tubuh lainnya. Nahkodanya hanya dua, -mata dan “Mata”-. 
Ketika Abdullah bin Abbas kehilangan pandangan mata, ia sadar bahwa ia akan menghabiskan sisa umurnya dalam keadaan buta, terpenjara dalam kegelapan dan gulita, tak menikmati  indahnya warna. Namun ia tidak mengeluh, tidak sumpah serapah, bahkan diterimanya takdir yang ada dengan kalimat yang begitu indah memberi cerah : “Jika Allah mengambil dariku cahaya kedua biji mata, maka masih ada lisan dan pendengaran yang tetap bercahaya. “Mata” hati Kalbuku cerdas. Akalku tangkas dan trengginas. Lisanku tajam melebihi pedang”. 
Tidaklah terlalu penting bagi mereka keberadaan mata. Sejarah telah banyak bukti, banyak jejak torehan tintanya. Asalkan masih melekat kuat cahaya “Mata” penerang jiwa. Dialah Abdullah bin Ummi maktum yang terlahir buta mata. Justru kehadirannya lebih diperhitungkan Allah dari pada kaum yang melihat dengan mata mereka, pemuka Quraisy yang sok cukup dan punya segalanya (QS. 80:1-10). Tapi buta “Mata” hatinya. 
Dua mata yang sering berseteru dan tak jarang saling berperang adu kekuatan. Mata kepala lebih mengajak pada kenikmatan pengetahuan, penglihatan semu yang melenakan. Sedang “Mata” hati memperjuangkan nilai fitri pembawaan diri, dia punya fisioner jauh menerawang. Rasul selalu mewanti-wanti untuk tidak mengikuti mata yang selalu mengajak mejelajah ruang-ruang terlarang. Dia akan menghujam bak panah beracun dari panah-panah syetan (HR. Ahmad) begitu Rasul mengibaratkan. Setelah Hasan bin Abi Sinan keluar dari rumahnya pada hari raya. Istrinya bertanya: “Berapa banyak wanita cantik yang engkau lihat tadi?” Beliau menjawab : “Demi Allah, aku tidak melihat kecuali ke ibu jari–jemari kaki, ku mulai sejak keluar sampai pulang kembali”.
Indah Ibnul Qoyyim memberi pelajaran : “kau mengira bahwa itu dapat mengobati luka mu, padahal dengan itu berarti kau menyayat luka demi luka. Kau korbankan matamu dengan pandangannya. Sementara hatimu menjerit seperti disembelih tersayat-sayat kesakitan meronta-ronta”. (Al-Jawabul kafi).
Kalau kita melihat dan mendapatkan informasi, setidaknya tabayun dan konfirmasilah dahulu kepada “Mata” hati. Dia lebih bisa dimintai penjelasan tentang kebenaran dan tentang memberi solusi. Jangan sampai pandangan mata dan pengetahuan darinya membutakan segalanya, mengerakkan kaki, tangan, mulut kita untuk ikut menjadi penguntit setia mata yang buta. : “Istafti qolbak” begitu pesan Nabi.
“Mata” Hati inilah yang harus menjadi nahkodanya, bukan mata kepala. Sebab di dalamnya ada visi, dan ada misi. Bahkan sekaligus pengetahuan yang juga diemban tugasnya oleh mata kepala. Mata hati bertugas ganda, maka keberadaannya lebih penting tinimbang mata kepala. 
Saya tertarik untuk mengutip apa kata Albert Einstein : “Visi jauh lebih penting dibanding pengetahuan.”  Visi itu ada di dalam hati. Dia melampaui batas-batas ruang. Menyibak sekat-sekat waktu lampau, mendatang dan jangka panjang. Menpunyai arah dan tujuan. Tak letih meski tertatih perih merintih. Menuju satu titik ke masa depan. : Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka benar-benar akan menafkahkan harta mereka. (QS. 8:36) Itulah visi mereka, sekali pun mereka akan masuk ke kobarnya api neraka. Tak surut, tak kecut dan mereka bukan pengecut. Karena begitulah mereka mewarisi visi pendahulunya : kemudian akan ku gelincirkan mereka dari muka, belakang, kanan dan dari kiri mereka… (QS. 7:17) dengan segala cara, dengan daya dan upaya, harta bahkan jiwa, segalanya demi  visi, demi misi.
Mungkin itulah sebabnya Anis Matta mendefinisikan dengan “cinta misi”. 
Ya.. sebenarnya cinta atau benci itu hanya persepsi, tidak ada istilah baku tentang nama mereka berdua. Makanya saya lebih tertarik menggunakkan contoh dari mereka yang “cinta” keburukan ketimbang yang “cinta” kebaikan. Karna kalau mereka cinta keburukan berarti benci kebenaran. Keduanya punya kesamaan dan keserupaan. Kegigihannya menjelma menjadi nafas kehidupan, :  
“Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun…“. Begitu ungkapan Syeikh Tarbiyyah, Rahmat Abdullah. Persis seperti bencinya mereka kepada kebaikan. 
Sama tidak beda! : “Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.”  Kalau ternyata benci pilihannya, dia akan menuntut sama seperti cinta. “Mata” hati bila sudah dibalut benci, semua tidak bernilai lagi. Jangankan hanya khilaf dan kesalahan bahkan kebaikannya pun tak lagi mempunyai arti.
**************************
Begitu asal-muasal Permusuhan itu bermula. Saat “Mata” sudah mewarisi “benci misi” dari Iblis yang legendaris. Sama seperti kaum yahudi, mereka pewaris sejati, berlomba dalam dosa, permusuhan dan melakukan yang haram; menghina, menista, memfitnah belaka. 
Benci misi dan cinta misi mengajarkan pelajaran yang sama, sumber muaranya mata dan “Mata” : “Haters, kalian begitu menginspirasi”. Begitu kata Zico Alfiandri menyebut istilah pembawa benci misi.  
“Haters, Kalian mengajarkan arti kesungguhan. Bagaimana caranya kalian bisa betah menguntit pihak yang kalian benci? Kalian kerasan berada di belakang pihak yang kalian benci sembari menunggu-nunggu kotoran keluar dari ekor mereka. Lalu kalian puaskan diri bermain dengan kotoran itu. Kalian senantiasa hausdengan kabar aib mereka. Tak pernah kenyang melihat mereka salah langkah. Selalu mengintip-intip aurat mereka tersingkap. Kalian survive dengan hidup begitu.”  
Kalau yang cinta keburukan menarik-narik kebaikan. Merobek baju kebesaran. Menghancurkan wadah perjuangan. Gigih, istiqomah melenyap dan melumat simat yang telah tersemat! Kenapa kita yang cinta perjuangan malu-malu membela keyakinan, galau dan ragu melaju menembus badai cobaan ? 
Muhammad Khumaidi

Praktisi Pendidikan SMAIT Nur Hidayah Surakarta

Alumnus Ma’had Aly An-Nu’aimy Jakarta

Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

sumber Islamedia – Media Informasi Islami http://ift.tt/1fZN6pV

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s